Ceritaku mungkin tidak sesingkat nama pulau ini, saya yang sudah jatuh cinta benar-benar berusaha untuk selalu kembali disini, di tengah masyarakat yang sama, di rumah yang sama. Oh iya, pernah dengar sebuah tempat bernama Rajuni ? Hm, sepertinya masih "remang-remang" yah, bagaimana kalau Taman Nasional Takabonerate, Selayar ? Saya yakin sebagian dari kalian sudah pernah mendengarnya.
September tahun 2015 adalah waktu yang tidak akan saya lupakan. Bagaimana tidak, di bulan Septemberlah untuk pertama kalinya kaki ini menginjak salah satu bagian dari Takabonerate, Desa Rajuni. Sebuah desa terpencil tanpa listrik dan sinyal. Sebuah desa yang tidak akan membuat sabun mandimu berbusa karena pasokan air tawarnya yang sangatlah terbatas. Sebuah desa yang penuh dengan ciri sebuah bangsa yang besar , kaya namun tetap sederhana, dengan keramahannya yang ada pada tiap warga, dengan sumber daya alam bahari yang terkenal, setiap sudutnya yang penuh keindahan.
Desa Rajuni adalah desa yang terdiri dari dua pulau, Rajuni Ki'di (Rajuni Kecil) dan Rajuni Besar (Rajuni Laut) yang termasuk dalam wilayah Taman Nasional Takabonerate, Selayar, Sulawesi Selatan. Bagi para pecinta dunia bawah laut, Takabonerate mungkin menjadi surga. Ceritaku mungkin tidak sesederhana nama desa ini. Untuk mencapai Desa Rajuni bisa via Pelabuhan Patumbukan yang memakan waktu tempuh 4-5 jam atau Pelabuhan Benteng selama 9-10 jam. Lama ? tenang saja jika beruntung perjalanan akan ditemani oleh sekawanan lumba-lumba. Berbeda dengan kali petama, kali ini saya memilih menggunakan kapal di pelabuhan Patumbukan yang berjarak 1 jam dari ibukota Kabupaten Selayar, Benteng.
Desa Rajuni adalah desa yang terdiri dari dua pulau, Rajuni Ki'di (Rajuni Kecil) dan Rajuni Besar (Rajuni Laut) yang termasuk dalam wilayah Taman Nasional Takabonerate, Selayar, Sulawesi Selatan. Bagi para pecinta dunia bawah laut, Takabonerate mungkin menjadi surga. Ceritaku mungkin tidak sesederhana nama desa ini. Untuk mencapai Desa Rajuni bisa via Pelabuhan Patumbukan yang memakan waktu tempuh 4-5 jam atau Pelabuhan Benteng selama 9-10 jam. Lama ? tenang saja jika beruntung perjalanan akan ditemani oleh sekawanan lumba-lumba. Berbeda dengan kali petama, kali ini saya memilih menggunakan kapal di pelabuhan Patumbukan yang berjarak 1 jam dari ibukota Kabupaten Selayar, Benteng.
![]() | |||
|
Masih teringat dengan jelas kali pertama mengunjungi Desa Rajuni (besar dan kecil) yang awalnya biasa saja tapi semua berubah setelah dua hari di Rajuni. Sunset dan Sunrise yang mempesona, Milkyway yang terlihat jelas, serta masyarakatnya yang ramah menjadi alasan saya memikirkan cara datang kembali.
Karena aksesnya yang jauh, bisa berhasil ke tempat ini lagi dengan budget rendah juga perlu waktu. Setelah 2 tahun berfikir bagaimana cara untuk datang kembali tiba-tiba ide cemerlang muncul tanpa di duga, "bagaimana kalau skripsi saya tentang desa Rajuni" ? Setelah 1 semester lamanya berusaha agar judul skripsi Acc, dan 1 bulan persiapan keberangkatan tibalah saya pada hari yang paling saya nantikan dalam kurun waktu hampir 2 tahun, akhirnya "Rajuni aku kembali".
Pulau Rajuni Ki'di sekarang telah berubah menurutku. Pulau ini sudah lebih hidup karena adanya listrik tenaga matahari yang di bangun oleh pemerintah awal tahun 2016 lalu, skarang bisa nonton tv kapanpun. Hehe...
Pulau Rajuni Ki'di sekarang telah berubah menurutku. Pulau ini sudah lebih hidup karena adanya listrik tenaga matahari yang di bangun oleh pemerintah awal tahun 2016 lalu, skarang bisa nonton tv kapanpun. Hehe...
Keunikan dari pulau Rajuni Ki'di adalah pulau ini dalah satu-satunya pulau di Takabonerate yang di diami oleh dua suku dominan yaitu Bugis dan Bajo dan mereka saling menghargai satu sama lain. Masyarakat Bajo di desa Rajuni Ki'di sendiri adalah masyarakat yang sangat di hargai oleh masyarakat di pulau-pulau lain karena kereligiusan mereka, pada sore hari disaat anak muda suku bugis bermain bola di lapangan anak muda suku bajo sudah membawa bagang (kapal ikan), pergi melaut mencari ikan semalaman, hasil lautnya mereka bagi dua, untuk pemilik kapal dan untuk mereka yang mencari ikan, selanjutnya mereka sisihkan lagi untuk mengumpul dana pembangunan pesantren impian mereka. Sedikit cerita lagi, percaya atau tidak suatu acara, entah itu syukuran,khitanan,aqiqah atau nikahan tidak bisa terlaksana jika tidak ada pemuka agama dan masyarakat suku bajo pulau rajuni ki'di yang datang, jadi para pemuka agama tidak boleh meninggalkan pulau Rajuni dalam waktu yang bersamaan ke kota Benteng, salah satu diantara mereka harus tinggal.
Sama seperti masyarakat yang tinggal di pulau, mata pencaharian masyarakat disini adalah nelayan. Sementara bapak-bapaknya melaut, para istri biasanya menggarami ikan (membuat ikan asin) yang biasanya dijual di Labuan Bajo.
Sama seperti masyarakat yang tinggal di pulau, mata pencaharian masyarakat disini adalah nelayan. Sementara bapak-bapaknya melaut, para istri biasanya menggarami ikan (membuat ikan asin) yang biasanya dijual di Labuan Bajo.





Comments