MENIKMATI MATAHARI TERBIT DISISI LAIN KOTA MAKASSAR
Sudah
hampir dua bulan berlalu dengan cepatnya sejak tahun baru datang dan saya belum
pernah menikmati matahari terbit tepat di depan mata. Biasanya jika ingin menikmati matahari terbit
saya harus berkendara selama dua atau tiga jam menuju Camba kabupaten Maros.
Pucuk
dicinta ulam pun tiba, seniorku di prodi fakultas yang sering ku sapa Kak Men yang
juga adalah seorang fotografer di UKM Fotografi Universitas Hasanudin
mengajakku menikmati matahari terbit (mungkin harena stok fotonya sudah
menipis, haha), tanpa pikir panjang saya meng”iya”kan ajakan seniorku itu. Pikirku,
pasti kami harus melakukan perjanan berjam – jam mencari spot bagus di subuh –
subuh buta, tidak mungkin menikmati matahari terbit di kota besar sepeti Makassar,
dimana asap kendaraan bermotor sudah mengepul depagi – paginya.
Ternyata
selama 20 menit menit berkendara saya sudah menikmati matahari terbit di sisi
lain kota Makassar. Tidak jauh dari ibu kota, tepatnya di daerah Antang saya
masih bisa menikmati kuasa Ilahi yang mempesona. Langit masih seoranye buah
jeruk ketika saya datang. Tempat ini
tidak seperti bagian dari Kota Makassar. Tidak ada macet, tidak ada wajah cuek.
Semua orang yang saya temui melempar senyum. Benar – benar sisi lain dari Kota
Makassar yang kupikur sudah hilang.
Satu
menit pertama saya hanya berdiri dan terpaku menikmati matahari terbit sementara
seniorku sudah memotret tiap objek di sekelilingnya.
Beberapa
nelayan sudah bersiap menjaring ikan air tawar yang banyak di temui disini. Yap,
sulit menjelaskan apa yang ada di depan saya ini memang. Jika air sedang naik
masyarakat bisa menjaring ikan nila yang banyak disini tapi jika air sedang turun
sejauh mata memandang hanyalah pematang sawah yang berlumpur.
Astaga,
kemana saja saya selama ini ? Ternyata tidak perlu jauh – jauh ke Camba untuk menikmati Matahari terbit. Jadi
benar, kadang kita tidak melihat apa yang ada didepan mata kita karena terlalu
memperhatikan hal yang jauh dari kita.
Selama kurang lebih dua jam saya hanya duduk, mengambil gambar,
bercerita dengan warga yang datang membeli ikan segar sambil sesekali minta di
foto oleh kak men, lumayan dapat jasa fotografi gratis walaupun kak Men agak
kesusahan karena saya banyak maunya dan dia memang lebih suka foto pemandangan dari pada model papan atas
seperti saya, hahaha.
Untuk kesini teman sebaiknya
mulai berangkat sepagi mungkin, melewati perumnas antang lebih tepatnya menuju
perbatasan Kabupaten Gowa di kelurahan Tamangapa. Biar lebih greget liat sunrise
viewnya dan tidak terlambat karena terjebak konvoi kawanan sapi. Nah, teman
yang suka makan air tawar juga bisa beli disini langsung selain membantu
perekonomian warga sekitar, ikan – ikan yang dibeli juga benar - benar segar ! fresh
from water.
Enjoy
!




Comments